CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Monday, January 19, 2009

HIDUP INI TERLALU SINGKAT UNTUK MEMBENCI



Ah, terlalu sukar untuk memberi maaf. Bahkan lebih sukar daripada meminta maaf. Masih terasa tusukan rasa bagaikan sebuah dendam yang membara. Masih terngiang-ngiang segala kata. Masih terbayang semua tingkah dan perlakuan.
---------------
Wajah 'orang-orang bersalah' itu terasa begitu menjengkelkan. Memberi maaf kepada mereka seolah-olah menggadaikan harga diri. Ah, apakah maruah ini terlalu murah untuk di sorong tarik dengan harga yang rendah? Dan cukup sakit, apabila mengenangkan 'musuh-musuh' itu tersenyum dengan kemenangan.
-------------
Namun, itu hanya bisik 'hati besarku'. Yang melantunkan suara ego dan marah. Kesat dan kesumat. Tetapi jauh dari dalam diri...ada suara lain yang bergetar. 'Hati kecil' yang tidak jemu-jemu mengingatkan. Suara tulus yang mendamaikan gelombang jiwa. Bisik telus yang meredakan amukan rasa.Maafkan, lupakan...cintai, sayangi...Berperang dengan mereka bererti berperang dengan diri sendiri. Begitu bisik hati kecil itu selalu.
----------------
Pada sebuah persimpangan rasa, tiba-tiba hati disapa oleh sebuah firman:
----------------
"Tolaklah kejahatan dengan sebuah kebaikan.Nescaya engkau akan mendapati musuhmu akan menjadi seolah-olah saudara"Wahai diri,api jangan dilawan dengan api. Nanti bakarannya akan membakar diri sendiri. Menyimpan dendam sama seperti membina sebuah gunung berapi di dalam hati. Semakin besar dendam itu, maka semakin sakit hati yang menanggungnya. Musuh-musuh mu terus ketawa, sedangkan kau sendiri menderita meneguk bisa.Musim-musim terus berlalu sewajarnya mendewasakan aku.
-------------
Pengalaman lampau sentiasa membuktikan bahawa permusuhan hanya akan memberi kepuasan sementara. Apabila 'fatamorgana' itu berlalu. Aku akan menjadi lebih dahaga daripada sebelumnya. Apakah akan ku terjah perangkap itu berkali-kali? Oh,tidak. Mukmin tidak akan terperosok dalam lubang yang sama dua kali. Begitu maksud sebuah sabda. Justeru? Cukup sekali!
------------
Biarlah musuh itu ketawa sepuas-puasnya. Beban rasa ini biarlah aku letakkan. Tidak akan ku bawa dalam safar kehidupan yang pendek ini. Hidup terlalu singkat untuk membenci. Bermusuh dengan orang lain, sama seperti bermusuh dengan diri sendiri. Memaafkan orang lain,sama seperti memaafkan diri sendiri.
--------------
Kata bijak pandai:
"Apa yang kita berikan akan kita terima kembali"
--------------
Ah, betapa leganya sekarang...Benarlah bahawa kebaikan itu tampak sukar untuk dilaksanakan. Pahit. Sakit. Tetapi apabila dilaksanakan akan terasa kemanisannya. Manakala kejahatan itu tampak mudah, indah dan manis. Namun apabila dilakukan, pasti ada kekesalan, kepahitan dan keresahan. Ketika ini terasa benar apa yang selalu didengar di dalam tazkirah - yang punya tabsyir dan inzar - bahawa dosa itu sesuatu yang meresahkan. Dendam itu dosa. Memaafkan itu pahala. Memaafkan menjemput datangnya 'syurga' yang fana, sebelum syurga yang baqa'.
--------------
Kini hatiku tertanya-tanya lagi...siapa aku, yang begitu sukar memaafkan? Tuan? Tuhan. Aku hanya hamba. Sedangkan DIA Sang Pencipta itu Maha Pemaaf, Maha Pengampun, siapa aku yang kerdil ini untuk terus berdendam? Ya ALLAH, ampunkan aku. Sengaja atau tanpa sengaja, sering atau kekadang...aku 'terlanjur' menumpang hak-MU..

Monday, December 22, 2008

PENCARIAN HIDUP

Pernah mencari cinta?
Seperti plato mencari cinta, dia bertanya pada gurunya,
"Bagaimana saya menemukan cinta?"
dijawab oleh gurunya,
"Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh berundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, ertinya kamu telah menemukan cinta."
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya,
"Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"
Plato menjawab,
"Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh berundur kembali (berpatah balik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumeneruskan berjalan lebih jauh lagi, baru kusedari bahawa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya."
Gurunya kemudian menjawab,
"Jadi ya itulah cinta" Atau mungkin seperti Arjuna yang mencari cinta? mendaki gunung tertinggi, menjelajahi isi bumi, mengarungi laut samudra. Atau seperti Ibrahim A.S yang mencari cinta? ketika malam datang terlihat bintang, "inikah yang aku cari?" Tapi ketika pagi tiba bintangpun menghilang "aku tak menyukai yang tenggelam". Begitu pun ketika melihat rembulan, melihat matahari yang lebih besar sinarnya, hingga akhirnya beliau menemukan cintanya...
Yang menciptakan bintang, rembulan, matahari dan semuanya. Bagaimana? Sudah menemukan cinta? Mudah-mudahan kita sudah menemukan sumber cinta dari segala cinta (Allah SWT), seperti nabi Allah Ibrahim A.S. kerana insyaAllah dengan begitu kita akan menemukan cinta-cinta yang lain.
Cinta kepada Rasulullah SAW yang sangat mencintaimu, kemudian cinta kepada Ibumu dan ayahmu yang dengan cinta membesarkanmu, cinta kepada suami/isterimu yang mendampingimu, kepada keluargamu, kepada tetanggamu, orang-orang yang lemah di antaramu, kerabatmu, dan seluruh mahluk-Nya....

perasmian

testing....